Selasa, 08 Mei 2012

tugas bahasa indonesia


Kategori atau kelas kata

Kelas kata atau partikel leksikal  adalah penggolongan kata menurut bentuk, fungsi, dan maknanya. Meskipun secara semantik ada persamaan antara kelas dalam berbagai bahasa, ciri-ciri formal kelas kata dapat berbeda antara bahasa. Misalnya, kelas nomina yang secara semantik universal mewakili orang atau benda, dalam bahasa Indonesia biasanya ditandai oleh ketidakbisaannya diberi kata tidak. sedangkan dalam bahasa Inggris nomina mempunyai penanda pluralis dan genitif -s [1]. Kelas kata dalam bahasa Indonesia dibagi menjadi delapan golongan besar yaitu nomina, pronomina, verba, adverbia, adjektiva, klitika, numeralia, dan kata tugas [2].


KATA DAN MORFEM

Kata mempunyai pengertian satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas. Kata memiliki dua macam satuan yaitu satuan Fonologis dan satuan Gramatikal. Sebagai satuan fonologis, kata terdiri dari satu suku kata atau lebih dari suku kata. Contoh: kata membaca terdiri dari tiga suku kata yaitu mem-, ba dan ca. Morfem mem- merupakan morfem terikat atau morfem yang tidak berdiri sendiri dan tidak mempunyai makna, akan mempunyai makna jika digabung dengan kata lain, sedangkan morfem baca merupakan morfem bebas yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai makna.

Sebuah cara yang dapat dilakukan untuk melihat bentuk-bentuk dalam bahasa yang berbeda ialah dengan menggunakan konsepsi unsur-unsur dalam pesan yang secara umum dikenal dengan proses morfologi.Dengan demikian, morfologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mengkaji bentuk bahasa serta pengaruh perubahan bentuk bahasa pada fungsi dan arti kata. Sasaran dalam pengkajian dalam morfologi ialah kata dan morfem. Kita mengetahui bahwa bentuk-bentuk kata dalam bahasa Indonesia harapan, beraharap, dan diharapkan pastilah mengandung lebih dari satu unsur, yaitu unsur harap ,dan sejumlah unsur yang lain seperti -an,-ber,-di,-dan,-kan. Semua unsur itu disebut morfem. Kata harapan , berharap ,dan diharapkan itu membentuk deretan morfologis. Yang dimaksud deretan morfologis ialah suatu deretan atau daftar memuat kata-kata yang berhubungan dalam bentuk dan artinya.

Morfem yang tidak ada dalam struktur itu disebut MORFEM ZERO.(sebagai catatan di samping morfem zero juga terdapat dalam struktur, tetapi tidak ikut memberikan makna dalam kalimat.

MORFEM BEBAS DAN MORFEM TERIKAT
Morfem Bebas merupakan morfem yang dapat berdiri sendiri sebagai suatu kata, Misalnya benar dan gandeng , sedangkan Morfem Terikat ialah morfem yang tidak dapat berdiri sendiri,dan tidak mempunyai makna.Dalam kata lain morfem terikat juga disebut afiks. Contoh morfem terikat dapat dilihat sebagai berikut.
Morfem Terikat :Prefiks (awalan): me-, ber-,di-,ke-,ter-
Infiks (sisipan) : -el,-em,-er
Sufiks (akhiran) : -i,-kan,-nya,-man,-wan,-wah
Konfiks (imbuhan gabung) : me-,kan-,di-,i-,ke-,an-.
Morfem bebas memiliki dua katagori, Kategori pertama disebut Morfem Leksikal (kamus) dipandang sebagai kata-kata yang mengandung "isi" pesan yang ingin disampaikan.Contoh morfem leksikal adalah anak, rumah, harimau, sedih, panjang, kuning, pandang, makan, kemarin, tadi, besok. Kelompok morfem bebas yang lain disebut dengan Morfem Gramatikal,kelompok itu terdiri dari kata tugas seperti preposisi,konjungsi,interjeksi,artikel dan partikel,contoh morfem gramatikal: dan,tetapi,ketika,sebab,pada,dan sebagainya.

Afiks yang termasuk dalam kategori "terikat" dapat dibagi menjadi dua tipe,salah satu tipe ialah MORFEM DARIYASIONAL. Morfem Dariyasional berfungsi mengalihkan kelas kata bentuk dasar menjadi kelas kata yang berbeda. Morfem terikat kedua mengandung apa yang disebut Morfem Infleksional. Morfem Infleksional tidak digunakan untuk menghasilkan kata-kata baru tetapi berfungsi sebagai pernyataan kategori garamatika dan hubungan sintaksis. Morfem Infleksional tidak dapat diulang dalam satu kata Infleksional.


UNGKAPAN & PERIBAHASA
Ungkapan
   Ungkapan atau idiom adalah kelompok kata untuk menyatakan sesuatu maksud dalam arti kias.
 
 Contoh:
         a. Ungkapan dengan bagian tubuh
kecil hati = penakut
tebal muka = tidak mempunyai rasa malu
         b. Ungkapan dengan kata indra
perang dingin = perang tanpa senjata, hanya saling menggertak
             uang panas = uang yang tidak halal
c. Ungkapan dengan nama warna
   1) lampu merah = isyarat yang membahayakan
   2) masih hijau = belum berpengalaman
d. Ungkapan dengan benda-benda alam
   1) kabar angin = berita yang isinya belum jelas
   2) bintang lapangan = pemain terbaik
e. Ungkapan dengan nama binatang
   1) kambing hitam = orang yang disalahkan
   2) kuda hitam = pemenang yang tidak diunggulkan
f. Ungkapan dengan bagian-bagian tumbuhan
   1) sebatang kara = hidup seorang diri
   2) naik daun = mendapat nasib baik
g. Ungkapan dengan kata bilangan
   1) berbadan dua = sedang mengandung
   2) diam seribu bahasa = tidak berkata sepatah kata pun


PERIBAHASA
Peribahasa adalah kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya yang digunakan untuk mengiaskan maksud tertentu.

contoh peribahasa:
·          Bagai anjing menyalak di ekor gajah =  orang yang lemah dan hina akan melawan orang yang berkuasa atau mulia.
·          Bagai makan buah simalakama dimakan ibu yang mati, tidak dimakan ayah yang mati = menghadapi persoalan yang semuanya  mengandung resiko
·          Habis manis sepah dibuang = ketika  jaya/cinta/dibutuhkan  sesudah tidak lagijaya/cinta/dibutuhkan dicampakan begitu saja. 




UNGKAPAN ASING DAN DAERAH
Dalam berbahasa Indonesia, kita sering juga menggunakan ungkapan-ungkapan bahasa asing atau pun daerah. Bahkan penggunaan ungkapan serapan itu kadang-kadang menjadi suatu keharusan, sebab belum atau tidak padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia. Ungkapan serapan itu sering kita serap apa adanya dalam bentuk aslinya.
Dalam menyerap ungkapan asing atau daerah dalam bentuk aslinya, hendaknya kita memperhatikan tata tulisnya. Ungkapan yang masih terasa keasingan atau pun kedaerahannya itu hendaknya ditulis dengan huruf miring. Akan tetapi untuk ungkapan serapan yang dapat disesuaikan dengan sistem ejaan atau bunyi bahasa Indonesia, hendaknya ungkapan itu diserap dengan penyesuaian dan tidak perlu lagi ditulis dengan huruf miring.
Kalau ungkapan asing atau daerah itu ada padanannya dalam bahasa Indonesia sebaiknya lebih diutamakan. Dalam hal padanan itu belum benar-benar sesuai dan akseptabel, penggunaan kedua-duanya perlu dilakukan.

KATA BERSINONIM,  ANTONIM, KONOTASI, DAN DENOTASI

1.    sinonim
Sinonim merupakan kata – kata yang mempunyai kesamaan arti walau arti kata – kata itu tidaklah
sama betul.
Dalam kalimat tertentu, suatu kata mungkin dapat digunakan, tetapi dalam kalimat lain tidak dapat .

2. antonim
Antonim merupakan kata – kata yang berlawanan arti.


Jenis-Jenis Antonim
  A. Antonim Kembar
Kata-kata yang berlawanan makna, terbatas hanya dua unsur saja.
    Contoh :  -  perjaka x gadis
                     -jantan x betina
  B. Antonim Majemuk
Perlawan makna dengan beberapa kata.
           Contoh : - merah x tidak merah  ( seperti : putih, hijau, biru )
C.  Antonim Gradual
Perlawanan dengan tingkatan makna.
     Contoh :  -  gemuk x agak gemuk
                     -  gemuk x kurang gemuk
            - ngemuk x tidak gemuk

Denotasi dan Konotasi

CONTOH DENOTASI DAN KONOTASI
Perhatikan contoh berikut ini
a Anton menjadi kambing hitam dalam kasus tersebut
b Anton membeli kambing hitam kemarin sore Kata “kambing hitam” pada kalimat a tidak
B Makna Denotasi dan Konotasi Makna denotatif referensial ialah makna yang Konotasi dapat dibedakan atas dua macam yaitu konotasi positif dan konotasi negatif Contoh
B Makna Denotasi dan Konotasi Makna denotatif referensial ialah makna Konotasi dapat dibedakan atas dua macam yaitu konotasi positif dan konotasi negatif Contoh
Pada dasarnya ada perbedaan antara denotasi dan konotasi dalam pengertian secara umum serta denotasi dan Contoh teks dan gambar dalam wacana iklan merupakan dua sistem tanda
denotasi dan konotasi; relasi makna sinonim; antonim; homonim; homofon; Contoh esai dan kritik sastra; Prinsip-prinsip esai dan kritik sastra

MAKNA DENOTATIF  DAN  MAKNA KONOTATIF
1. MAKNA DENOTATIF
Makna denotatif adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit. Makna wajar ini adalah makna yang sesuai dengan apa adanya. Denotatif adalah suatu pengertian yang dikandung sebuah kata secara objektif. Sering juga makna denotatif disebut maka konseptual, makna denotasional atau makna kognitif karena dilihat dari sudut yang lain. Pada dasarnya sama dengan makna referensial sebab makna denotasi ini lazim diberi penjelasan sebagai makna yang sesuai dengan hasil menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan, atau pengalaman lainnya.

Denotasi adalah hubungan yang digunakan di dalam tingkat pertama pada sebuah kata yang secara bebas memegang peranan penting di dalam ujaran (Lyons, I, 1977:208). Dalam beberapa buku pelajaran, makna denotasi sering juga disebut makna dasar, makna asli, atau makna pusat.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa makna denotasi adalah makna sebenarnya yang apa adanya sesuai dengan indera manusia. Kata yang mengandung makna denotatif mudah dipahami karena tidak mengandung makna yang rancu walaupun masih bersifat umum. Makna yang bersifat umum ini maksudnya adalah makna yang telah diketahui secara jelas oleh semua orang contoh kata yang mengandung makna denotatif:

1. Dia adalah wanita cantik
Kata cantik ini diucapkan oleh seorang pria terhadap wanita yang berkulit putih, berhidung mancung, mempunyai mata yang indah dan berambut hitam legam.

2. MAKNA KONOTATIF
Zgusta (1971:38) berpendapat makna konotatif adalah makna semua komponen pada kata ditambah beberapa nilai mendasar yang biasanya berfungsi menandai. Menurut Harimurti (1982:91) “aspek makna sebuah atau sekelompok kata yang didasrkan atas perasaan atau pikiran yang timbul atau ditimbulkan pada pembicara (penulis) dan pendengar (pembaca)”.
Sebuah kata disebut mempunyai makna konotatif apabila kata itu mempunyai “nilai rasa”, baik positif maupun negatif. Jika tidak memiliki nilai rasa maka dikatakan tidak memiliki konotasi, tetapi dapat juga disebut berkonotasi netral. Positif dan negatifnya nilai rasa sebuah kata seringkali juga terjadi sebagai akibat digunakannya referen kata itu sebagai sebuah perlambang. Jika digunakan sebagai lambang sesuatu yang positif maka akan bernilai rasa yang positif; dan jika digunakan sebagai lambang sesuatu yang negatif maka akan bernilai rasa negatif. Misalnya, burung garuda karena dijadikan lambang negara republik Indonesia maka menjadi bernilai rasa positif sedangkan makna konotasi yang bernilai rasa negatif seperti buaya yang dijadikan lambang kejahatan. Padahal binatang buaya itu sendiri tidak tahu menahu kalau dunia manusia Indonesia menjadikan mereka lambang yang tidak baik.
Makna konotasi sebuah kata dapat berbeda dari satu kelompok masyarakat yang satu dengan kelompok masyarakat yang lain, sesuai dengan pandangan hidup dan norma-norma penilaian kelompok masyarakat tersebut. Misalnya kata babi, di daerah-daerah yang penduduknya mayoritas beragama islam, memiliki konotasi negatif karena binatang tersebut menurut hukum islam adalah haram dan najis. Sedangkan di daerah-daerah yang penduduknya mayoritas bukan islam seperti di pulau Bali atau pedalama Irian Jaya, kata babi tidak berkonotasi negatif.
Makna konotatif dapat juga berubah dari waktu ke waktu. Misalnya kata ceramah dulu kata ini berkonotasi negatif karena berarti “cerewet” tetapi sekarang konotasinya positif. Sebaliknya kata perempuan dulu sebelum zaman Jepang berkonotasi netral, tetapi kini berkonotasi negatif.

parafrase
Parafrase adalah istilah linguistik yang berarti pengungkapan kembali suatu konsep dengan cara lain dalam bahasa yang sama, namun tanpa mengubah maknanya. Parafrase memberikan kemungkinan kepada sang penulis untuk memberi penekanan yang agak berlainan dengan penulis asli. Istilah parafrase berasal dari bahasa Inggris paraphrase, dari bahasa Latin paraphrasis, dari bahasa Yunani para phraseïn yang berarti "cara ekspresi tambahan".

Parafrasis

Parafrasis adalah tindakan atau kegiatan untuk membuat parafrase. Untuk melakukan parafrasis, pertama-tama teks yang akan diparafrase harus dibaca secara keseluruhan. Pembaca perlu untuk memahami topik atau tema dari teks tersebut, sedangkan untuk teks berbentuk narasi perlu memahami pula alur atau jalan ceritanya. Selanjutnya, pembaca harus menemukan gagasan atau ide pokok yang teredapat pada kalimat utama setiap paragragkalimat utama pada setiap paragraf. Untuk kalimat penjelas, hanya bagian yang penting saja yang diambil, sedangkan bagian yang berupa ilustrasi, seperti permisalan, dan sebagainya, dapat diabaikan. Untuk mencertikan kembali teks tersebut, diperlukan kata atau kalimat yang sepadan, efektif, dan mudah dipahami. Agar lebih singkat, kalimat langsung dapat diubah menjadi kalimat tidak langsung. Dalam melakukan parafrasis, perlu digunakan bahasa yang ringkas dan mudah dipahami.

KARANGAN
Karangan merupakan karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Lima jenis karangan yang umum dijumpai dalam keseharian adalah narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.

Narasi

Secara sederhana, narasi dikenal sebagai cerita. Pada narasi terdapat peristiwa atau kejadian dalam satu urutan waktu. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang menghadapi suatu konflik. Ketiga unsur berupa kejadian, tokoh, dan konflik merupakan unsur pokok sebuah narasi. Jika ketiga unsur itu bersatu, ketiga unsur itu disebut plot atau alur. Jadi, narasi adalah cerita yang dipaparkan berdasarkan plot atau alur.
Narasi dapat berisi fakta atau fiksi. Narasi yang berisi fakta disebut narasi ekspositoris, sedangkan narasi yang berisi fiksi disebut narasi sugestif. Contoh narasi ekspositoris adalah biografi, autobiografi, atau kisah pengalaman. Sedangkan contoh narasi sugestif adalah novel, cerpen, cerbung, ataupun cergam.
Pola narasi secara sederhana berbentuk susunan dengan urutan awal – tengah – akhir.
ñ Awal narasi biasanya berisi pengantar yaitu memperkenalkan suasana dan tokoh. Bagian awal harus dibuat menarik agar dapat mengikat pembaca.
ñ Bagian tengah merupakan bagian yang memunculkan suatu konflik. Konflik lalu diarahkan menuju klimaks cerita. Setelah konfik timbul dan mencapai klimaks, secara berangsur-angsur cerita akan mereda.
ñ Akhir cerita yang mereda ini memiliki cara pengungkapan bermacam-macam. Ada yang menceritakannya dengan panjang, ada yang singkat, ada pula yang berusaha menggantungkan akhir cerita dengan mempersilakan pembaca untuk menebaknya sendiri.
Langkah menyusun narasi (terutama yang berbentuk fiksi) cenderung dilakukan melalui proses kreatif, dimulai dengan mencari, menemukan, dan menggali ide. Oleh karena itu, cerita dirangkai dengan menggunakan "rumus" 5 W + 1 H, yang dapat disingkat menjadi adik simba.[rujukan?]
1.    (What) Apa yang akan diceritakan,
2.    (Where) Di mana seting/lokasi ceritanya,
3.    (When) Kapan peristiwa-peristiwa berlangsung,
4.    (Who) Siapa pelaku ceritanya
5.    (Why) Mengapa peristiwa-peristiwa itu terjadi, dan
6.    (How) Bagaimana cerita itu dipaparkan.
Soekarno mengucapkan pidato tentang dasar-dasar Indonesia merdeka yang dinamakan Pancasila pada sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945.
Soekarno bersama Mohammad Hatta sebagai wakil bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.Ia ditangkap Belanda dan diasingkan ke Bengkulu pada tahun 1948. Soekarno dikembalikan ke Yogya dan dipulihkan kedudukannya sebagai Presiden RI pada tahun 1949.

 Contoh

Contoh narasi berisi fakta: saya malam ini akan tidur dan bangun esok pagi

Deskripsi

Tepat pukul 06.00 aku terbangun, diiringi dengan suara-suara ayam yang berkokok seolah menyanyi sambil membangunkan orang-orang yang masih tidur. serta dapat ku lihat burung-burung yang berterbangan meninggalkan sarangnya untuk mencari makan. Dari timur sang surya menyapaku dengan malu-malu untuk menampakkan cahayanya. Aku berjalan ke halaman depan rumah tepat dihadapan ku ada sebuah jalan besar untuk berlalu lintas dari kejauhan tampak sawah-sawah milik petani yang ditanami padi masih berwarna hijau terlihat sangat sejuk, indah, dan damai. Dari kejauhan pula terlihat seorang petani yang sedang membajak sawahnya yang belum ditanami tumbuhan, dan ada juga petani yang sedang mencari rumput untuk makan binatang peliharaannya seperti kambing, sapi, dan kerbau. Didesaku rata-rata penduduknya sebagai petani. Pagi ini terlihat sangat sibuk, di jalan" terlihat ibu-ibu yang sedang berjalan menuju pasar untuk berjualan sayur. Tetanggaku seorang peternak bebek yang juga tidak kalah sibuknya dengan orang". Pagi-pagi sekali dia berjalan menggiring bebeknya kerawah dekat sawah untuk mencari makan, bebek yang pintar berbaris dengan rapi pengembalanya. Sungguh pemandangan yang sangat menarik dilihat ketika kita bangun tidur. Dihalaman rumah kakekku yang menghadap ketimur terdapat pohon-pohon yang rindang, ada pohon mangga yang berbuah sangat lebat, disamping kiri potehon mangga dapat pula pohon jambu air yang belum berbuah karena belum musimnya. Dan disebelah kanan rumah ada pohon rambutan yang buahnya sangat manis rasanya. sungguh pemandangan yang sangat indah yang sangat asri dan damai ini adalah tempat tinggal kakek ku dan tempat kelahiran ku. Desa yang bernama NAMBAHDADI ini adalah tempat yang paling aku kunjungi saat liburan. Selain bisa bertemu kakek dan nenek aku juga bias melihat pemandangan yang indah nan damai.

 

Eksposisi

Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik. Sebagai catatan, tidak jarang eksposisi ditemukan hanya berisi uraian tentang langkah/cara/proses kerja. Eksposisi demikian lazim disebut paparan proses. Langkah menyusun eksposisi: * Menentukan topik/tema * Menetapkan tujuan * Mengumpulkan data dari berbagai sumber * Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
ñ Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi.
Contoh topik yang tepat untuk eksposisi:
ñ Manfaat kegiatan ekstrakurikuler
ñ Peranan majalah dinding di sekolah
ñ Sekolah kejuruan sebagai penghasil tenaga terampil.
Contoh karangan eksposisi pada umumnya:
Pada dasarnya pekerjaan akuntan mencakup dua bidang pokok, yaitu akuntansi dan auditing. Dalam bidang akuntasi, pekerjan akuntan berupa pengolahan data untuk menghasilkan informasi keuangan, juga perencanaan sistem informasi akuntansi yang digunakan untuk menghasilkan informasi keuangan.
Dalam bidang auditing pekerjaan akuntan berupa pemeriksaan laporan keuangan secara objektif untuk menilai kewajaran informasi yang tercantum dalam laporan tersebut.
Contoh paparan proses yang juga merupakan bentuk eksposisi: Pada dasarnya pekerjaan akuntan mencakup dua bidang pokok, yaitu akuntansi dan auditing. Dalam bidang akuntasi, pekerjan akuntan berupa pengolahan data untuk menghasilkan informasi keuangan, juga perencanaan sistem informasi akuntansi yang digunakan untuk menghasilkan informasi keuangan. Dalam bidang auditing pekerjaan akuntan berupa pemeriksaan laporan keuangan secara objektif untuk menilai kewajaran informasi yang tercantum dalam laporan tersebut.

Macam-macam Kalimat Tanya

1.      Kalimat tanya konfirmasi atau klarifikasi
Kalimat tanya yang bertujuan untuk mempertegas kembali persoalan yang sebenarnya telah diketahui.
Kunci:
• Jawabannya “ya” atau “tidak”.
• Biasanya menggunakan kata “benarkah” atau “apakah benar”.
Contoh:
• Benarkah Alis seorang penyanyi panggilan?
2. Kalimat tanya retoris
Kalimat tanya yang tidak memerlukan jawaban secara langsung.
Kunci
• Tidak memerlukan jawaban.
• Bertujuan memberikan motivasi, semangat, dan menggugah kesadaran.
Contoh:
• Apakah kita akan membiarkan korupsi merjalela di Indonesia?
3. Kalimat tanya tersamar
Kalimat tanya yang bertujuan untuk maksud tertentu secara tersembunyi atau tersamar.
Kunci:
Dipakai untuk memohon, meminta, menyindir, membiarkan, melarang, dsb.
Contoh:
• Bolehkah saya mengetahui namamu, Nak?
• Bersediakah kamu membersihkan ruangan yang kotor ini?

Wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain sehingga membentuk kesatuan.
ñ Implikatur konvensional dan implikatur percakapan
ñ Konteks wacana: situasi, pembicara, pendengar, waktu, tempat, adegan, topik, peristiwa, bentuk amanat, kode, dan sarana.
ñ Kohesi dan koherensi
ñ Topik, tema, dan judul
ñ Referensi dan inferensi



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar